Minggu, 04 September 2016

Pasca Ujian Tesis





Alhamdulillah, diberi amanah memparipurnakan tesis relasi interpersonal antar anggota legislatif, sebuah studi fenomenologis dari perspektif psikologi sosial-politik. Terima kasih kepada orang tua, dewan penguji, bapak/ibu dosen UNDIP dan UGM, serta kawan-kawan sekalian.

Yogyakarta, 1 September 2016.

Jumat, 17 Juni 2016

Matrikulasi: Pra S2 Magister Psikologi

Diperbarui 1 Oktober 2017



zoom in buat tahu info lebih lanjut seputar Magister Psikologi dan lain-lain tentang Psikologi UGM (22 - 23 Maret 2018)


Karena antusias pembaca non-psikologi untuk mengikuti program matrikulasi (pra pasca) S2 Magister Psikologi, maka saya membuat publikasi khusus. Bismillah. Seperti yang sudah saya ulas di publikasi Masuk Magister Psikologi Dan Magister Profesi UGM?, program yang hanya bisa diikuti oleh lulusan non-psikologi yang tertarik dunia psikologi adalah S2 Magister Psikologi atau Mapsi.

Mapsi berorientasi pada ilmu dan pengembangan ilmu. Yang harus dipahami pembaca sekalian adalah bahwa Mapsi tidak bisa praktik layaknya seorang psikolog. Mungkin pembaca sudah pernah tes inteligensi atau tes kepribadian? Nah itu adalah domainnya psikolog. Domain ilmuwan psikologi –lulusan Mapsi—adalah penelitian. Lebih lanjut, saya ceritakan pada akhir tulisan ini. Karena orientasi keilmuan maka lulusan Mapsi dapat langsung melanjutkan studi S3 (Dr atau PhD). Mapsi UGM memiliki 6 peminatan: perubahan dan pengembangan organisasi; psikologi klinis; perkembangan kognisi, emosi, dan sosial dalam perspektif life span; kelompok dan relasi sosial; psikologi pendidikan; mind, brain, and performance; serta psikometrika terapan. Lulusan Mapsi mendapat gelar MA (Master of Arts).

Matrikulasi (Pra Pasca) Langkah Awal Masuk Mapsi
Langkah awal masuk Mapsi adalah mengkuti matrikulasi atau kuliah pra pasca. Matrikulasi dibuka 2x dalam setahun, yaitu pada semester ganjil (daftarlah ke akademik Mapsi sebelum bulan Mei) dan pada semester genap (sebelum bulan November). Pendaftaran matrikulasi dilakukan di Sekretariat Mapsi Gedung D lantai 4 Fakultas Psikologi UGM. Jadi tidak perlu mendaftar online di um.ugm.ac.id. Ya. Tidak perlu.

Berkas yang perlu dipersiapkan untuk mendaftar adalah sebagai berikut:
1.      Formulir pendaftaran (disediakan di tempat)
2.      Daftar riwayat hidup
3.      Fotokopi ijazah S1
4.      Fotokopi transkrip S1
5.      Fotokopi judul, abstrak, lembar pengesahan, dan daftar isi Skripsi
6.      Fotokopi sertifikat akreditasi prodi S1
7.      Rekomendasi 2 orang (dosen S1)
8.      Proyeksi keinginan melanjutkan pendidikan S2 unduh di sini
9.      Surat izin dari instransi (jika sudah bekerja)
10.   Fotokopi sertifikat pelatihan (jika ada)
11.   Fotokopi ITP Toefl / AcEPT
12.   Fotokopi TPA / PAPs
13.   Surat kerterangan sehat
14.   Foto 3x4

Setelah menyerahkan berkas di Sekretariat Mapsi, pendaftar akan di beri no rekening. Pendaftar akan diminta untuk membayar Rp 750.000,00. Jadi pastikan membawa uang sekian. Setelah membayar, pendaftar kembali ke Sekretariat Mapsi untuk menunjukkan slip/bukti pembayaran dan menandatangani tanda terima berkas

Seleksi Matrikulasi
Semakin ke sini, seleksi makin ketat. Bahkan untuk masuk matrikulasi pun. Seingat saya memang sudah cukup lama ada seleksi wawancara. Jadi, pelajari lagi proyeksi keinginannya ya. Mengapa pindah keilmuan? Apa menariknya psikologi? Apa yang Anda ketahui dari ilmu psikologi? Mengapa pilih Psikologi UGM? Rencana risetnya tentang apa? Ke depan, setelah matrikulasi dan Mapsi mau ke mana?

Kemarin di penerimaan Juni 2017, mulai ada seleksi tertulis selama dua jam. Seleksi tertulis ini berisi pilihan ganda dan menulis. 

(1) PILIHAN GANDA 60 soal. Apa yang perlu dipelajari? Setidaknya perlu belajar psikologi umum dan metodologi penelitian. Kalau mau, bisa ditambah psikologi perkembangan dll. Beberapa pembaca bertanya referensinya apa? Kalau menurut saya buku yang mudah dipahami antara lain :
Psikologi Umum (Bimo Walgito)
Research Design: Kualitatif, Kuantitatif, dan Mixed (John Creswell)
Life-Span Development: Perkembangan Masa Hidup Jilid 1 dan 2 (Santrock)

Psikologi Sosial (Sarwono)

(2) MENULIS. Diberi 3 judul, kemudian diminta memilih salah satu, untuk diberi tanggapan.

Sekilas Perkuliahan Matrikulasi
Biaya kuliah matrikulasi sama dengan biaya S2 Mapsi, yaitu sekitar Rp8.500.000,00. Kuliah dilakukan selama kurang lebih 4 bulan, mulai bulan Agustus. Kuliah ini terdiri dari 10 mata kuliah yang masing – masing berbobot 2 sks. Mata kuliah tersebut adalah sebagai berikut.
1.      Psikologi Umum
2.      Psikologi Pendidikan
3.      Psikologi Sosial
4.      Psikologi Perkembangan
5.      Psikologi Industri dan Organisasi
6.      Psikologi Abnormal
7.      Psikologi Kepribadian
8.      Metodologi Penelitian
9.      Statistika Psikologi
10.   Penyusunan Skala Psikologi

Pastikan mengikuti mata kuliah ini dengan baik. Karena mata kuliah ini adalah dasar untuk mempermudah dalam mengikuti mata kuliah pada S2 Mapsi yang sesungguhnya. Pastikan memperoleh hasil evalusi belajar (Indeks Prestasi Kumulatif/IPK) seoptimal mungkin. Karena hal tersebut menjadi pertimbangan dalam seleksi masuk S2 Mapsi. Sebagian besar perserta matrikulasi lolos seleksi masuk S2 Mapsi.

Seleksi Masuk S2 Mapsi
Seperti yang sudah saya sampaikan di publikasi Masuk Magister Psikologi Dan Magister Profesi UGM?, peserta matrikulasi WAJIB mengikuti seleksi S2 Mapsi. Karena menjadi peserta matrikulasi tidak otomatis menjadi mahasiswa Mapsi. Seleksi Mapsi meliputi :
1.   Seleksi administrasi (online dan penyerahan berkas secara langsung)
2.   Seleksi tertulis: teori (pilgan 60 soal berisi dasar-dasar psikologi dan metologi penelitian), dan menulis rancangan tesis (disediakan tiga tema penelitian untuk dipilih salah satu)
3.   Seleksi wawancara



Sekilas Perkuliahan Mapsi
Setelah diterima sebagai mahasiswa S2 Mapsi, maka akan dijumpai perkuliahan untuk 34 sks. Perkuliahan dilakukan di Gedung D lantai 4. Metode perkuliahan setiap dosen tidak sama. Ada dosen yang memberikan materi selama setengah semester dan dilanjutkan keaktifan mahasiswa selama setengah semester berikutnya; ada dosen yang memberikan mukadimah 2 pertemuan dan 12 pertemuan selanjutnya adalah keaktifan mahasiswa. Keaktifan ini maksudnya presentasi materi teori atau hasil penelitian.

Ya. Selain kajian teori, pada beberapa mata kuliah mahasiswa akan diberi penugasan berupa penelitian baik secara individual ataupun berkelompok. Tugas itu ada yang dikumpulkan saja, dan ada juga yang dipresentasikan. Khususnya tugas yang berkolompok, lazimnya dipresentasikan. Inilah pengalaman yang menyenangkan. Mata kuliah yang saya ikuti yang ada penugasan penelitian misalnya Psikologi Komunikasi, Perilaku Antar Kelompok, Psikologi Keluarga dan MP Kualitatif.

Mapsi juga mengenal ujian tengah semester dan ujian akhir semester. Di samping ujian ini, acapkali diberikan hadiah berupa reviu jurnal penelitian, membuat paper, atau membuat proposal penelitian yang relevan dengan mata kuliah. Menyenangkan dan inilah fase-fase pembentukan sebagai ilmuwan psikologi yang akrab dengan dunia penelitian.

Pada peminatan perubahan dan pengembangan organisasi, kita akan berteman baik dengan penelitian mengenai work engagement, kepuasan kerja, dan berbagai macam gaya kepemimpinan dalam konteks industri organisasi. Pada peminatan psikologi klinis, kita mengenal penelitian seputar well-being, post-traumatic stress disorder, kekerasan, dan penerimaan diri pada penderita penyakit. Pada peminatan psikologi pendidikan, banyak penelitian tentang motivasi berprestasi, efikasi akademik dan berbagai penyusunan alat ukur di kancah pendidikan. Pada peminatan perkembangan kognisi, emosi, dan sosial dalam perspektif life span ada banyak penelitian seputar self, kecerdasan emosi, dan identitas remaja. Sementara pada peminatan kelompok dan relasi sosial, kita akan lebih akrab dengan penelitian mengenai relasi sosial, kepemimpinan, dan psiko-budaya.



17 Juni 2016
Muhammad Zulfa Alfaruqy

Sabtu, 21 Mei 2016

Psyframe: Mudanesia 7



Catatan dinding facebook Alfaruqy M. Zulfa



11 April 2016
Negeri Tipu-Tipu

Masyarakat kelas bawah, ibarat main, ini kalah banyak. Jangan harap perumahan elit juga dapat perlakuan sama. Masih percaya kontrak politik?

Fenomana kepemimpinan tipu-tipu masih menjadi primadona. Tapi anehnya dipilih juga. Aneh kan. Memang begini. Calon pemimpinnya hobi tipu-tipu, (sebagian besar?) masyarakatnya juga senang ditipu.

Pertanyaannya yang menarik untuk setiap gelaran pilkada, hobi tipu-tipu dan kesenangan untuk ditipu ini berulang lagi atau tidak? Kalau berulang yawes. berarti . . .



11 April 2016
TERUSIR!

Dulu saya simpatik dengan Jakarta Baru ala Jokowi-Basuki. Penawaran gaya kepemimpinan merakyat yang memanusiakan manusia. Memprototipe kepemimpinan santun ("wong") Solo untuk diaplikasikan di Ibu Kota. Tapi bergulirnya waktu banyak penyimpangan "janji". Dari kebohongan satu ke kebohongan yang lain. Dan kini tampak transformasi besar berupa gaya kepemimpinan yang otoriter-kapitalis.

Sama-sama buka peta rencana tata ruang wilayah kota, adakah hunian elite yang digusur? Tidak! Malah disediakan 17 pulau, yang mustahil terjangkau kantong proletar. Disediakan rusun yang jarak lokasinya jauh dari pekerjaan sama juga mematikan pekerjaan itu sendiri. Rusun ini tidak gratis, tapi bayar. Tidak kuat bayar rusun dan diusir lagi!

"dan kamilah yang terusir dari tanah kami sendiri"
- - - - - - - -
Maaf. Karena bukan kader partai, jadi perubahan persepsi terhadap aktor politik tergantung dari perilakunya. Bukan dari partainya.



30 April 2016
Ramai-ramai Jadi Alay Kampus

Acara mata najwa masuk kampus, kalau sudah bahas politik, jadi misi pihak (partai?) tertentu untuk ajang kampanye di civitas akademika. Mahasiswa ramai-ramai menjadi "alay" layaknya acara-acara televisi lain. Tepuk tangan, riuh ketidaksetujuan, dan riuh persetujuan dikoordinasi.

Kampusmu, kampus alay?



14 Mei 2016
Senja di Teras Kampus

“Kampus kerakyatan katanya. Tapi biaya semeninggi langit, Yah.”
“Iya, Nak. Karena tidak semua rakyat itu miskin! Ayah akan jual sepetak tanah di belakang rumah. Semoga cukup untuk masuk kampus ini. Berharap kau akan jadi orang pintar, Nak. Kau tak boleh kerdil. Tenanglah, keringat ayah masih deras untuk diperas.”
“Tapi sisakan air mata ayah untukku.”

Sang ayah tersenyum. dipeluknya anak itu, sambil berjalan pulang menyusuri jalanan.



16 Mei 2016
Neo Palu-Arit

Dua tahun yang lalu, saat pilpres, media sosial ramai membincangkan jikalau salah satu pasangan yang menang maka neo-PKI akan berani menampakkan eksistensinya. Benar saja, pasangan yang dimaksud menang. Saya tidak sedang berfantasi untuk menguji korelasinya. Yang pasti sekarang keberadaan neo-PKI semakin nyata. Berani. Dari wajah-wajahnya neo-PKI ini generasi 80-an dan 90-an yang sudah pasti tidak bersinggunggan secara langsung dengan "perjuangan" paleo palu-arit. Inilah reinkarnasi, kelahiran baru ketidaksadaran yang lama dikubur.

Setiap bangsa memilih peradabannya sendiri, memilih sejarah dan siklus-sejarahnya sendiri.


Selasa, 17 Mei 2016

Psyframe: Mudanesia 4


17 Januari 2016

 oleh Muhammad Zulfa Alfaruqy


Awal 2016 diawali dengan masuknya aliran dukungan Golkar terhadap pemerintahan Jokowi-JK, menyusul sikap PAN yang terlebih dahulu membuka sambut tangan. Dengan apapun istilahnya, keberpihakan dua partai yang pernah berafiliasi dalam KMP telah bulat. Abaikan, kemungkinan atribusi bahwa sikap Golkar di awal 2016 ini ada kaitannya dengan titik temu ARB dan AL bahwa sikap partai sesuai dengan kehendak kubu AL tetapi nahkoda tetap diberikan kepada ARB.

Bandul Kekuatan Legislatif
Sementara pimpinan dan alat kelengkapan masih di pundak sejumlah elite yang terdeklarasi dalam KMP tahun 2014, bandul kekuatan legislatif nyatanya sudah begeser ke KIH. Hitungan matematis, dari 560 kursi DPR RI, PDIP (109) + PKB (47) + Nasdem (36) + Hanura (16) saja sudah berjumlah 208. Jika ditambah PAN (48) + Golkar (91) maka jumlahnya sudah mencapai 347 kursi atau 61,96%. Tafsir kita, legislatif sudah selaras dengan eksekutif. Praduga bahwa akan ada penjegalan terhadap pemerintahan sudah tidak relevan lagi. Terlepas bahwa setahun lebih berjalan, kritik pedas terhadap Jokowi-JK sebenarnya justru datang dari partai pengusung.

Konsekuensi dari otak-atik komposisi kelompok tersebut di atas, juga mengirim pesan bahwa nilai tawar PPP (39) di legislatif bagi KIH sudah menurun jika dibandingkan sebelum ada manuver partai beringin di awal 2016 ini. Pesan lain dilayangkan kepada Partai Demokrat (61). Posisinya sebagai partai penyeimbang boleh dikatakan tidak urgen lagi sebab komposisi KIH jauh meninggalkan KMP. Akhirnya partai yang masih “ada” di KMP hanya tinggal Gerindra (73) dan PKS (40). Jumlah ini sangat kecil bahkan layak untuk disebut kelompok sub-ordinat.

Jatah Eksekutif Kursi Menteri
Bagaimana kondisi di eksekutif, khususnya pembagian kursi menteri? Masuknya Golkar dan PAN tentu merupakan kemenangan lobi punggawa Jokowi. Kemenangan tersebut lantas menyisakan pekerjaan rumah baru bagi Jokowi untuk membagi kursi menteri. Tentu kita masih ingat saat diumumkan di Istana Merdeka, 34 menteri Kabinet Kerja terdiri dari 18 menteri dari unsur profesional dan 16 menteri dari unsur partai (26/10/2014). Komposisi itu berubah pada Agustus 2015 dan akan berubah lagi tahun 2016.

Sementara PAN dan Golkar berpotensi mendapat (2 – 4) kursi menteri, maka posisi menteri dari unsur profesional dan dari unsur partai lama akan terpelanting keluar. Sejumlah menteri yang sering gaduh, entah profesional entah elite politik, daya tawarnya menurun di mata presiden. Partai yang tergabung dalam KIH Pemilu 2014, pun harus bersiap – siap kehilangan sejumlah menteri mereka. Terlebih partai yang relatif kecil. Makan hati berulam jantung.

Jalan Menuju Pemilu Legislatif 2019
Sejauh ini masyarakat, secara psikologis, masih terbelah menjadi dua kutub, yaitu pendukung Jokowi dan bukan pendukung Jokowi (lebih relevan daripada menyebut sebagai pendukung Prabowo, apalagi Hatta). Fenomena dua kutub ini memang merupakan hal yang baru bagi masyarakat Indonesia dan menarik untuk dianalisis bagaimana prediksi di waktu yang akan datang. Sebagai catatan modal politik Jokowi di 2014 adalah 70,9 juta suara, sedangkan yang bukan pendukung Jokowi adalah 62,5 juta suara.

Satu hal yang pasti, jika Jokowi sukses memimpin pemerintahan yang masih tersisa 3 tahun ini maka medan magnet kutub pendukung Jokowi akan semakin kuat dan bertambah, sebaliknya jika gagal maka yang bertambah adalah kutub yang bukan pendukung Jokowi. Pun demikian, trend yang ada sekarang terjadi menunjukkan bahwa pendukung Jokowi menanjak naik. Pertanyaanya seberapa besar efek dua kutub ini bagi pileg 2019 mendatang?

Bertambahnya jumlah pendukung Jokowi pada gilirannya akan menambah gemuk dukungan masyarakat terhadap partai pendukung pemerintahan. Sayangnya, penggemukan ini diprediksi tidak proporsional. Hanya sebagian partai saja yang akan menikmati presentase kenaikan dukungan pada pileg 2019. Dan kandidat terkuat tentulah PDIP. Mengapa? Masyarakat akan melihat keberhasilan pemerintahan sebagai keberhasilan Jokowi yang notabene adalah kader PDIP.

Kenaikan suara tersebut berasal dari hijrahnya masyarakat bukan pendukung Jokowi menjadi pendukung Jokowi dan hasil reduksi dari partai-partai lain yang sekarang mendukung pemerintahan. Bukan kenaikan suara yang diperoleh, justru stagnansi bahkan penurunan yang didapat. Apa pasal? Partai lain, khususnya partai kecil, tersisih perannya di mata masyarakat lantaran dipersepsi tidak banyak berkontribusi. Partai yang memiliki massa tetap mungkin akan bisa bertahan meskipun untuk grafik naik masih dipertanyakan.

Hal yang berpeluang besar mengalami kenaikan justru datang dari partai yang sekarang berada di luar pemerintahan. Mengapa? Partai semacam ini diuntungkan karena memperoleh dukungan masyarakat yang masih setia menjadi bagian dari kelompok bukan pendukung Jokowi. Jumlahnya tidak kurang dari 1/3 penduduk Indonesia. Ini menjadi potensi besar yang akan digarap oleh partai seperti Gerindra dan PKS. Potensi semakin besar, jika prestasi pemerintahan tidak menunjukkan kegemilangan namun menunjukkan kebangkrutan karena lilitan hutang dan keterpurukan ekonomi.

Patut kita nantikan siapa yang akan berjaya dalam pemilu 2019 mendatang. Akankah posisi empat besar masih sama seperti tahun 2014 yakni PDIP (18,95%), Golkar (14,75%), Gerindra (11,81%) dan Demokrat (10,19%)? Atau justru ada partai lain yang lihai memanfaatkan peluang dan potensi dukungan masyarakat?